Monday, July 11, 2011

Mengenal Sistem Operasi Non-Linux / Non-Windows / Non-Unix / Non-Unix-Like 1




Didalam tulisan Pak I Made Wiryana yang dimuat oleh majalah infolinux edisi 08/2006 yang saya sertakan ini anda akan menemukan beberapa nama sistem operasi yang mungkin akan sangat asing ditelinga kita, sistem operasi apakah tersebut dan siapa yang membuatnya..???  silahkan dibaca untuk mengetahuinya.

Oleh : I Made Wiryana

HelenOS dari Paris-nya Eropa Timur

Saya selalu mencari tahu, mempelajari, dan mencoba berbagai sistem operasi atau OS. Ada project OS besar seperti HURD, Plan 9, atau OS riset seperti L4 Linux yang memfokuskan pada model microkernel untuk virtualisasi, atau DEX Extension OS dan EROS yang fokus pada sekuriti. OS yang bersifat personal seperti Visopys dan TriangleOS juga tidak saya lewatkan. Termasuk sistem operasi yang dibangun dengan bahasa Haskel, misal House, atau dalam bahasa Java, seperti JNode dan JX.

HelenOS saat ini sedang dalam radar pengamatan saya. HelenOS dikembangkan oleh salah satu kampus tua Universitas Charles di Praha, Cekoslwakia. HelenOS dimulai dari pengembangan kernel SPARTAN tahun 2001-2004 oleh Jakun Jermar. Pada 2004, SPARTAN dirilis dengan lisensi BSD. Oktober 2004, dengan bimbingan Jakub Yaghob PhD, proyek HelenOS dimulai dengan merekrut 7 mahasiswa. Dalam tempo yang singkat sudah mulai menemui bentuknya. HelenOS belum lengkap tapi demo dengan lisensi BSD sudah tersedia.

HelenOS mendukung SMP, bersifat multitask dan multithread untuk 32-bit dan 64 bit, big dan little endian serta mendukung berbagai prosesor seperti AMD64, IA-32, IA-64, MIPS (32bit), PowerPC (32 bit) dan SPARC V9. Jadi portabilitas menjadi salah satu kriteria dalam desain struktur sistem operasi ini. Oleh sebab itu, banyak bagian yang diimplementasikan dalam bahasa lebih tinggi (bukan mesin). Diharapkan dapat mendukung berbagai model abstraksi pempemrograman seperti thread, sinkronisasi, pengelolaan memori virtual/fisik.

HelenOS didesain menggunakan model microkernel, dengan ruang kernel lebih kecil dibanding model Unix. Kernel hanya berisi kode yang penting untuk dijalankan di tingkat kernel (penjadwalan, pengelolaan memory, proteksi pengolahan perangkat keras utama, IPC). Device driver tambahan, filesystem, dan jaringan diimplementasikan di user space. Ini lebih mirip MINIX atau HURD ketimbang Linux. Kernel yang digunakan bersifat pre-empsi. Satuan penjadwalan terkecil adalah sebuah thread, beberapa thread akan dikelompokkan menjadi menjadi task. Proses pergantian task juga akan bersifat pre-empsi, baik di tingkat program pengguna ataupun kernel. 

Di samping model sekuriti yang biasa diterapkan di Unix, HelenOS akan menerapkan pembagian kontek di tingkat kernel, untuk menyediakan lingkungan virtual. Ini mirip dengan penambahan Xen di Linux. Diharapkan HelenOS dapat menjalankan aplikasi Linux, tanpa syscall atau kompatibilitas API, tetapi melalui pustaka tambahan di saat kompilasi. Ini memungkinkan aplikasi Linux dikompilasi di HelenOS tanpa perubahan. Berbeda dengan paradigma Unix yang menggunakan file (berkas) sebagai obyek utama, HelenOS akan menggunakan paradigma object/message.

Kalau Indonesia kalah dengan kampus di Cekoslwakia, mungkin akademisi kita bisa menganggap wajar, karena kampus tersebut salah satu dari kampus tertua di Eropa. Tetapi kampus Thiargarajar College of Engineering dai Madurai, Tamil Nadu India, dengan 1 orang dosen dan 4 orang mahasiswa tingkat S1, juga telah mengembangkan DynacubeOS. Begitu juga Nepal, negara kecil yang juga punya proyek akademik ManRix yang dimulai oleh 2 mahasiswa Nepal College of Information Technology (Pokhara University) pada 2003. ManRiX ini juga sistem operasi microkernel, yang berusaha menjadi sistem operasi lengkap yang memenuhi bakuan POSIX, ditulis dari scratch dan dilisensikan GPL.

Saya ingat ketika hal ini saya singgung ke salah seorang rektor kampus besar Indonesia, jawab sang rektor, kita belum punya SDM yang memadai untuk melakukan pengembangan di tingkat “infrastruktur”. Pertanyaan saya, kalau memang belum mencapai “critical mass” mengapa malah tidak segera dimulai? Atau memang jawabannya simpel. KITA TIDAK MAMPU dan kita punya segudang alasan untuk menutupi hal itu. (.end)
---
Semoga setelah membaca tulisan Pak Made Wiryana diatas pengetahuan kita mengenai keanekaragaman sistem operasi dapat bertambah, dan sedikit mengikis ketidak tahuan kita, agar nantinya kita tidak terkecoh bila nantinya ada seseorang yang mengaku menemukan / membuat jenis sistem operasi baru, padahal sebelumnya telah ada, seperti beberapa nama sistem operasi yang tersebut pada  tulisan diatas ( HelenOS, ManRix, dan sejenisnya )  hehehe :D :D

Daftar Pustaka :
I Made Wiryana , Opini: HelenOS dari Paris-nya Eropa Timur, INFOLINUX, Jakarta: PT InfoLINUX Media Utama , Oktober 2006.

1 comment:

  1. Indonesia malah saling membanggakan OS luar negeri, atau malah bangga dengan hasil MODIFIKASI, bukan berusaha mencari dan membangun dari nol

    ReplyDelete